Minggu, 14 Desember 2008

Kita ini orang kecil. orang kecil ngomongnya juga kecil, orang besar ngomongnya juga besar. Orang kecil itu kayak semut, kalo terpaksa ya gigit…tapi kalau terpaksa loh! (seorang pedagang Indomie rebus di jogja)
Rangkaian kalimat sang pedagang tersebut menjadi inspirasi yang besar buat saya, kalimat-kalimatnya sederhana tapi memiliki makna yang mendalam bagi saya.
Cerita diawali ketika suatu malam, tepatnya dini hari saya begitu gelisah. Entah apa yang sedang saya pikirkan juga tidak jelas akan tetapi pikiran tersebut membuat saya tidak mampu berkonsentrasi untuk memulai ritual tidur saya. Karena sampai beberapa jam saya tidak bias “lewat” juga. Akhirnya pergi ke burjo. Pesan coffemix dan semangkuk bubur kacang hijau. Waktu itu uang yang tersisa di saku hanya sejumlah 3900 rupiah. Pada saat yang sama keinginan diri ini untuk merokok begitu menggelegar, sementara rook dji sam soe yang tinggal 2 batang ternyata aku tinggalkan di Darwis. Hitung-hitung kalau harganya masih harga lama, satu gelas es coffemix + semangkuk Bubur kacang hijau + 1 batang rook djarum Super semuanya seharga 3700, berarti masih sisa 200 rupiah malah. Tapi yang jadi permasalahan adalah, apa memang harganya masih harga lama. Kalau harga baru bagaimana? Kebingungan mau memberikan pertanyaan seperti apa, akhirnya jurus basa-basi muncul juga,
“Mas, harga barang jualannya udah pada naik belum nih, BBM kan udah naik?”
“Yah, gimana ya mas, kalo dinaikkan nanti pembeli pada pergi, kalau nggak dinaikkan lama-lama kita yang rugi.”
Intermezzo itu akhirnya membuahkan hasil, ternyata harganya masih harga lama, lega sekali hati ini rasanya. Perbincangan seputar BBM pun kami lanjutkan kembali, lama kelamaan menarik kami keluar dari tema yang kami perbincangkan sejak awal. Tanggapan dia tentang kenaikan BBM ya tidak jauh beda dengna pedagang kecil lainnya. Tentunya ada perasaan kecewa dengan kenaikan BBM ini. Dia juga berkomentar tentang orang kecil selalu tidak diperhatikan, sementara para petinggi negeri masih saja tidak begitu memahami apa yang sebenarnya yang dinginkan oleh rakyatnya. Akhirnya orang kecil tidak lagi memiliki kebijakan di dalam mengambil keputusan yang bersifat vital di dalam kehidupan masyarakat pada umumnya (kebijakan public), “kita ya manut aja” keluhnya.

Tidak ada komentar: