Minggu, 14 Desember 2008

Dampak Dogma Dalam Perkembangan Ilmu

DAMPAK DOGMA DALAM PERKEMBANGAN ILMU


I. Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu seharusnya dapat berdampak positif serta dapat berguna bagi kehidupan manusia, perkembangan ilmu ini dapat berjalan sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga dapat menjadi satu tujuan yang dapat menghasilkan sesuatu yang berguna.
Peranan dan mamfaat ilmu dalam dunia modern dan bagi kemajuan masyarakat pada dewasa ini tidak teringkari lagi dan kiranya tidak perlu diberi alas an pembenaran secara panjang lebar, dengan berkembangnya ilmu, manusia dapat mencapai nilai kebenaran, memahami aneka kejadian, meramalkan peristiwa yang akan terjadi atau bahkan menguasai ala untuk memamfaatkannya. Bias dikatakan semua segi kehidupan manusia dewasa ini tersentuh oleh kemajuan ilmu. Ilmu kini menjadi tumpuan harapan masa depan manusia.
Perkembangan ilmu sendiri membahas persoalan- persoalan konkrit dan penting yang ada kaitannya dengan masa depan dan kelangsungan peradaban, seperti masalah ideologi politik dan teknologi terutama masalah pendidikan. Kelemahan dari system pendidikan sekarang ialah kurangnya tujuan fundamental, terlampau menekankan pengumpulan kuantitatif dari fakta tapi melupakan atau melalaikan semangat kearifan( spirit of wisdom).

B. Rumusan Masalah
· Animisme
Pada awalnya manusia mulai berpikir ketika mereka mulai menemukan gejala-gejala alam yang harus mereka hadapi.manusia primitf ketika melihat kilat dan mendengar petir diikuti dengan ujan deras mereka mulai bingung dan merenung apa yang sebenarnya yang terjadi.
Antropologi dan sejarah menujukan bahwa manusia pertamakali menerangkan pertama kali menerangkan gejala-gejala seperti itu karena perbuatan para dewa,pada masa itu manusia sangat percaya kepada hal-hal sepiritual,keadaan yang bersifat gaib atau fase animistis ini belum sesungguhnya berlalu bahkan pada beberapa golongan yang berdab.
Bukan hal yang aneh bagi orang moderen untuk percaya pada dunia gaib untuk menerangkan sesuatu kejadian yang belum mampu untuk dijelaskan.
· Ilmu Empiris
Lambat laun manusai menyadari bahwa gejala alam dapat diterangkan sebab musababnya. Suatu langkah yang paling penting yang menandai permulaan ilmu sebagai suatu pendekatan sistematis dalam pemecahan masalah. Perkembangan kearah ini berlangsung lambat.perkembangan yang kasar dan tidak sistematis secara lambat laun memberi jalan kepada observasi yang lebih sistematis dan kritis,pengujian hipotesis secara sistematis dan teliti dan akhirnya disatukan secara utuh.

· Ilmu Teoritis
Tingkat yang palang akhir dari ilmu adalah ilmu teoritis, dimana hubungan dengan gejala yang ditemukan dalam ilmu empiris diterangkan dengan dasar sutu kerangka pemikiran tentang sebab musabab sebagai lang untuk meramalkan dan menentukan cara untuk mengintrol kegiatan agar hasil yang diharapkan dapat dicapai.ilmu teoritis dapat memperpendek peruses untuk sampai dalam pemahaman masalah. Ilmu teoritis mempunyai kelebihan yang nyata dalam merangsang penelitian dan dalam memberikan hipotesis yang berharga.

C. Tujuan Perkembangan Ilmu dan Agama
Ilmuwan yang berfikir filsafati, diharapkan bisa memahami filosofi kehidupan, mendalami unsure – unsure pokok dari ilmu yang ditekuninya secara menyeluruh sehingga lebih arif dalam memahami sumber, hakikat dan tujuan dari ilmu yang ditekuninya, termasuk pemamfaatnya bagi masyarakat. Sehingga, ilmuan selain sebagai orang berilmu juga memiliki kearifan, kebenaran, etika dan estetika.
Secra epistemologis dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan yang ada saat ini merupakan hasil dari akumulasi pengetahuan yang terjadi dengan pertumbuhan, pergantian dan penyerapan teori. Kemunculan teori baru yang menguatkan teori lama akan memperkuat citra sains normal. Tetapi, anomali dalam riset ilmiah yang tidak diselesaikan oleh paradigma yang menjadi referensi riset, menyebabkan berkembangnya paradigma baru yang bias memecahkan masalah dan membimbingriset berikutnya. Tumbuh kembangnnya teori dan pergeseran paradigma adalah pola perkembangan yang biasa dari sians yang telah matang. Berkembangnya peralatan analisis juga mendorong semakin berkembangnya ilmu. Contoh epistemology ilmu dimana terjadi perubahan teori dan pergeseran paradigma terlihat pada perkembangan teori atom, teori pewarisan sifat dan penemuan alam semesta.
Dalam perkembangan ilmu, suatu kekeliruan mungkin terjadi terutama saat pembentukan paradigma baru. Tetapi, yang harus dihindari adalah melakukan kesalahan yang lalu ditutupi dan diakui sebagai kebenaran.
Sebagai contoh, kajian ilmu bioteknologi, revolusi hijau (bibit unggul, pestisida, pupuk kimia ) dan tanaman transgenic untuk mengatasi produksi pangan yang terus menurun, maka kita perlu mempertanyakan kebenaran fundamental yang ada dibelakangnya. Apa penyebab masalah yang sebenarnya? Apa saja alternatifnya pemecahan masalahnya? Apakah alternative yang diajukan adalah alternative yang terbaik untuk mengatasi masalah? Bagaimana kajian keuntungan dan resiko dari alternative yang dipih? Bagaimana dampaknya terhadap kemanusiaan, lingkungan, ekonomi dan system social masyarakat? Hal – hal ini harus dipelajari dan dijawab oleh ilmuwan sebelum alternative ini benar – benar dipilih untuk menatasi suatu masalah. Sehingga tidak terjadi kasus dimana aplikasi dari suatu factual knowledge ternyata pada akhirnya menimbulkan dampak negative bagi manusia, lingkungan, sosial ataupun aspek lain dari kehidupan masyarakat.

Seorang ilmuwan brada pada posisi dimana dia memiliki pengetahuan yang berdasarkan pada fakta(fattual knowledge). Tetapi ,fakta ini tidak berarti walupun bisa menjadi instrument jika tidak diaplikasikan. Aplikasi dari suatu ilmu hendaklah mempunyai nilai kegunaan (aksiologi) yang memberi makna terhadap kebenaraan atau kenyataan yang dijumpai didalam seluruh aspek kehidupan.
Kajian pilsafat bekenaan dengan pencarian kebenaran fundamenta.Seorang ilmuwan,hendaknya mengaji kebenaran fundamenl dari suatu alternatif pemecahan masalah yang disodorkanya.




II. Pembahasan
Tentang Doktrin
Doktrin merujuk kepada pengajaran tentang Allah yang bersumber dari Alkitab. Sebuah Doktrin adalah apa yang seluruh kitab suci ajarkan tentang topik-topik tertentu kepada kita hari ini. Doktrin ini terkait langsung dengan definisi Teologi Sistematika. Doktrin dapat bermakna sempit atau luas. Doktrin yang luas, misalnya, Doktrin Allah, termasuk sebuah ringkasan dari apa yang Alkitab katakan kepada kepada kita tentang Allah. [Wayne Grudem, Systematic Theology: An Introduction to a Biblical Doctrine(G. R. Michigan: Zondervan Pub. House, 1994), 25-26]. Pengertian Doktrin secara sederhana adalah ajaran utama Alkitab. Ajaran yang tertulis dalam Alkitab. Ajaran itu tidak pernah salah atau tidak konsisten atau berubah.
Ada tiga kriteria untuk menentukan Doktrin: (1). Doktrin itu sangat ditekankan dalam Kitab Suci. (2). Doktrin itu sangat penting dan berpengaruh dalam Ajaran Gereja sepanjang masa. (3). Doktrin itu sangat berpengaruh bagi pengajaran gereja sepanjang masa. Karena kesesuaiannya dengan situasi kontemporer (perubahan), Doktrin-Doktrin itu lebih diterima pada hari ini, ketimbang buku-buku teks Teologi Sistematika. [Wayne Grudem, Systematic Theology: An Introduction to a Biblical Doctrine (GR. Michigan: Zondervan Pub. House, 1994), 25-26].
Usaha mensintesa tema-tema Alkitab ini disebut usaha Sistematisasi Doktrin. Tema-tema Alkitab yang menyebar dan telah diakumulasi itu membentuk beberapa tema mayor, misalnya, secara umum ada 7 Doktrin mayor dalam Alkitab (sebutannya bisa berbeda): (1). Doktrin Alkitab. (2). Doktrin Allah. (3). Doktrin Manusia. (4). Doktrin Kristus dan Roh Kudus. (5). Doktrin Aplikasi Penebusan. (6). Doktrin Gereja. (7). Doktrin Akhir zaman. Istilah "Doktrin" tidak dapat diganti dengan istilah "Teologi" Misalnya: "Doktrin Allah" tidak bisa menjadi "Teologi Allah", dll. Doktrin-Doktrin (Misalnya: Doktrin Allah) ini bisa dipersempit, seperti: Doktrin Kekekalan Allah, atau Doktrin Trinitas, atau Doktrin Penghakiman Allah. Doktrin-Doktrin, dalam pengajaran dan penyelidikannya bisa dikembangkan, tetapi tidak akan berubah atau bertambah, selama Alkitab Kanonik (PL-PB) adalah Sumber Doktrin itu.
Dengan demikian, berdasarkan fungsinya, tugas seorang teolog sistematika adalah menata secara Logis semua Doktrin yang sudah tersedia di Alkitab dengan panduan Tokoh-Tokoh Besar dalam penelitian Teologi lainnya. Misalnya, John Calvin, dengan Institutionya tidak bisa lepas dari karya-karya Bapak-Bapak Gereja, seperti Agustinus, Thomas Aquinas, dll. Hasil akhir dari usaha "Sistematisasi" Doktrin Alkitab itu disebut Teologi Sistematika. (Silahkan bandingkan dengan karya Louis Berkhof, Teologi Sistematika (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesi oleh LRII, Jakarta).
F. "Pengajaran Doktrin" Bisa Bebeda dan Salah
(1). Jika Doktrin yang diajarkan oleh gereja tersebut tidak sesuai dengan Doktrin-Doktrin Ortodoks, maka gereja itu dianggap Salah atau Sesat. Doktrin Ortodoks secara sederhana dirumuskan dalam Pengakuan Iman Rasuli, Nicea-Konstantinopel, Chalcedon, Athanasius.
(2). Masing-masing aliran gereja bisa berbeda-beda dalam memberikan penekanan pada Doktrin. Misalnya, dalam mengkhotbahkan Doktrin Keselamatan, gereja-gereja yang beraliran Teologi Calvinis-Injili cenderung mengajarkan Keselamatan oleh Anugerah Allah. Sedangkan di gereja lainnya, menekankan keselamatan melalui perbuatan baik, dsb. Doktrin Keselamatan itu sendiri tidak berubah, tetapi cara mengajarkan dan memberikan penekanan pada Doktrin itu yang berbeda.
(3). Aliran Teologi seseorang bisa berubah. Doktrin itu sifatnya tetap dan benar. Tetapi, seringkali ada Pendeta, Ahli Teologia yang memberikan penekanan yang berlebihan untuk hal-hal tertentu, namun mengabaikan hal-hal yang utama - prinsipil. Cara dan Metode Berteologia seseorang juga sangat berperan dalam mempengaruhi Teologinya. Aliran Teologia seseorang bisa mempengaruhi jemaat yang dipimpinnya. Oleh sebab itu, jangan karena dia sesorang 'Pendeta yang berbakat' atau 'Teolog yang handal' dan 'Populer' maka dia dianggap tidak bisa salah. Jadi, antara Sudut Pandang Teologi Seseorang terhadap suatu Doktrin dengan Aliran Teologi yang dianut oleh sebuah Denominasi atau gereja bisa bebeda dan salah. Ujilah apa yang anda dengar! Ujilah segala sesuatu.
Definisi Dogma
Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan diragukan.
Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi, karena sudah self evident atau benar dengan sendirinya. Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada kebutuhan adanya rasionalisme, empirisme dan objektivitas. Artinya, apabila pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional, empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau tidak mempunyai kesahihan. Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya.
“Hubungan antara agama dan dogma keagamaan senantiasa menarik untuk didiskusikan. Sebab, dari dogma itulah, biasanya seluruh perilaku keagamaan senantiasa dijalankan dengan penuh keyakinan. Dogma juga menjadi sebuah ideologi penuntun untuk menemukan kebenaran dan menumbuhkan militansi guna membela keyakinannya. Yang sering kali terjadi, antara hakikat agama dan dogma itu menjadi sebuah hal yang disamakan”
Padahal, antara agama dan dogma itu sendiri terdapat perbedaan yang signifikan. Agama pada dasarnya sebuah hakikat yang meliputi berbagai bentuk dogma yang mengatur dan memberikan arahan manusia agar menjalankan kehidupan dengan baik dan memperoleh kebahagiaan. Dogma adalah sarana untuk menjalankan keagamaan dan membumikan agama itu dalam kehidupan sehari-hari. Maka, berbagai macam dogma agama itu bisa berupa tuntunan untuk kehidupan sosial, ekonomi, politik, keluarga, dan sebagainya.
Selain kerap terjadi penyamaan antara agama dan dogma, yang juga acap kali muncul adalah penafsiran akan sebuah dogma secara tunggal dan hegemonik oleh kelompok tertentu. Kelompok ini, biasanya adalah orang atau lembaga resmi yang dekat dengan kekuasaan atau mereka yang memegang teguh status quo penafsiran masa lalu. Akibat dari hegemoni penafsiran dogma ini, yang kerap terjadi adalah adanya sebuah pengafiran (takfir) terhadap orang lain yang mempunyai penafsiran berbeda atau menentang penafsiran lama.
Dogma dalam pandangan Agama Nasrani
Dogma merujuk kepada apa yang dilihat benar oleh seseorang dan yang mempengaruhi pendiriannya. Dalam gereja, Doktrin adalah Kebenaran Sejati yang dinyatakan oleh Allah di dalam Kristus dan tertulis dalam Alkitab. Doktrin yang telah disepakati akan disebut Dogma. Doktrin menentukan Dogma. Dogma-dogma Kristen ditetapkan dalam Konsili-Konsili. Misalnya, Doktrin Kristus (--Kristologi, sebagai Doktrin yang banyak menghadapi permasalahan) disepakati sebagai Dogma Gereja dalam 4 kali Konsili, tahun 325, 787, 1215 dan 1545-1563 Masehi. [Hendrikus Berkhof, Introduction to the Study of Dogmatics (G. R, Mich.: W. B.Eerdman Pub. Co., 1985), 4-6.]. Tentang Konsili-Konsili, silahkan baca di F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja: "Konsili" (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1994), 127-139.
Jadi, Dogma yang sejati dasarnya adalah Doktrin atau Pengajaran yang bersumber dari Alkitab itu sendiri dan ditetapkan oleh Konsili Gereja sebagai Dogma Gereja yang sah dan benar.
Dogma dalam pandangan Agama Islam

Doktrin atau dogma adalah pola pikir deduktif (deductive). Pola pikir yang sangat tergantung pada teks atau nash-nash kitab suci adalah pola pikir yang bersifat deduktif. Abid al-Jabiri menyebut pola pikir seperti itu sebagai pola pikir "bayaniyyun" dan bukan `irfaniyyun, dan juga bukan burhaniyyun. (Muhammad Abid al-Jabiri, Bunyah al-Aql al- Araby ), Perlu dicatat bahwa pola pikir deduktif hanyalah salah satu dari sekian banyak pola pikir yang ada. Selain itu masih ada pola pikir lain seperti yang menggunakan cara pendekatan induktif (inductive) atau abduktif (abductive).
Kasus yang dialami oleh Nasr Hamid Abu Zayd, adalah salah satu contoh di antaranya. Karena ia berani berijtihad bahwa Alquran pada hakikatnya adalah produk budaya, ia dikafirkan dan dipaksa untuk bercerai dengan istrinya serta akhirnya didemarkasi ke Leiden. Bahkan sebelum itu, pemikir Mesir Faraj Fouda dibunuh karena juga mengeluarkan gagasan yang kontroversial. Mereka dianggap berbahaya karena memprofankan dogma agama yang selama ini dianggap suci dan berani mengkritik para pemegang otoritas penafsiran.
Kritik terhadap hegemoni penafsiran dan pemegangan teguh terhadap dogma itu haruslah dilakukan. Sebab, pada dasarnya penafsiran dan dogma hanyalah jalan untuk mendapatkan kebenaran agama, jadi ia bukan agama itu sendiri. Terlebih lagi, penafsiran para ulama masa lampau, juga sering kali dilakukan secara tekstual dan sesuai dengan kondisi sejarah masa itu. Oleh karenanya, jawaban atas dialektika pemikiran yang berkembang dan problem kemanusiaan yang terjadi pada masa sekarang, akan sulit ditemukan pada karya-karya mereka.


III. Kesimpulan

Setip hari,bulan dan tahun jaman akan terus berubah begitujuga teknologi yang semakin canggih dan kemampuan berfikir manusia yang semakin moderen telah mengantarkan manusia meninggal kan jaman demi jaman dan semua berubah baik dari segi gaya hidup dan kepercayaan kepada roh-roh halus pun semakin memudar.






















DAFTAR PUSTAKA
The Ling Gie,1987,Pengantar Pilsafat Ilm: Yogayakarta: Yayasan Studi Ilmu dan Teknologi
Charis Zubeir, Ahmad. 2002. Kajian Filsafat Ilmu: Dimensi Ekti dan Askekti Ilmu Pengetahuan Manusia Lembaga Studi Filsafat Islam: Yogyakarta
Wolfon Herry Austryn, The Philosophy of the Kalam (Cambridge: Harvard University Perss, 1976).
Al-Jabiri, Muhammad Abid, Bunyah al-Aql al-Araby: Dirasah Talilinyah Nakqdiyyah Li al-Nudzumi al-Ma’rifah fi al-Tsaqafah al-Arabiyyah (Beirut: Markaz Dirasah al-Wihdah al-Arabiyyah, 1990).

Islam Di Indonesia Dari Masa Kolonial Hingga Reformasi

ISLAM DI INDONESIA DARI MASA KOLONIAL
HINGGA REFORMASI
oleh: Amalia Destika

Indonesia memang mendapat sorotan negara lain karena keunikannya, sebagai negara dengan jumlah populasi muslim terbesar memiliki model keberagaman tersendiri dengan mengawinkan budaya budaya lokalnya dengan substansi Islam itu sendiri. Islam Indonesia, memang sudah menjadi perhatian dunia, entah dalam rangka kepentingan kolonial, akademik, budaya maupun politik.
Islam di Indonesia pada masa kolonial Melihat periode ini sangatlah panjang. Namun, periode-periode ini bisa dilihat sebagai titik awal identitas Islam di Indonesia. Hal ini karena masuknya Islam di Indonesia yang ditandai dengan akulturasi budaya yang sangat kental, berjalan lancar dan tidak mengagetkan keberagamaan awal penduduknya.
Islam melebur dengan budaya lokal, menangkap spirit penyebaran agama yang harus disampaikan tanpa kekerasan. Tak ada kafiyeh, jilbab, masjid berkubah layaknya di Timur Tengah, kalaupun ada itu dalam hitungan angka. Banyak kalangan dalam dan luar mengakui keberhasilan ini, lepas dari perdebatan apakah Islam dibawa oleh pedagang Gujarat atau dari orang- langsung. Dari sinilah, citra Islam Arab tidak nampak di Indonesia, abad belakangan barulah nampak identitas Arab itu, lagi-lagi bukan dalam jumlah yang mayoritas.
Sementara itu, ketaatan kepada pemimpin atau pemuka agama yang nyaris tanpa reserve menjadi gambaran umum di banyak tempat. Hal ini malah menjadi kekuatan tersendiri di masa lampau. Masa kolonial Belanda misalnya, mengabadikan nama Snouck Hurgronje sebagai penasehat ulung pemerintahannya. Resistensi Muslim Aceh memang menjadi pekerjaan besar tersendiri bagi kolonial. Strategi inilah yang kemudian mengantarkan Snouck sampai di Tanah suci dan rahasia kekuatan Aceh terkuak, dan Aceh menjadi daerah di Indonesia yang paling akhir ditaklukan. Peristiwa ini kemudian menjadi sejarah penting bagaimana satu dari banyak tipologi Islam di Indonesia “ dimanfaatkan ” oleh dunia luar.
Selain gambaran politik Islam dan kolonial di masa itu, proses penyebaran Islam di Nusantara yang memang tidak persis seiring waktu dan tempat dengan kolonialisasi juga menarik dikemukakan. Pertama, sebagaimana dijelaskan di atas, akulturasi dan asimilasi budaya telah membentuk identitas Islam Indonesia sebagai agama pendatang. Identitas yang banyak disemangati oleh nilai toleransi itu telah membuat konfigurasi “anyar” antara agama yang datang dari Timur Tengah dan agama yang tunduk pada original culture menafikan substansi pesan “ langit ” agama itu. Kedua, meski kemudian menjadi agama mayoritas, Islam tidak menjadi dominan di seluruh area Indonesia, banyak daerah menjadi konsentrasi agama-agama tertentu, misalnya; Manado untuk Kristen, Bali untuk Hindu dsb. Fenomena ini sesungguhnya mengajarkan, bahwa di antara yang berbeda, tetap ada harmoni, dan untuk melawan kekerasan atas nama agama, kuncinya terletak pada toleransi, seperti di masa lalu, sesuatu yang sangat sulit kita temukan pada masa sekarang. Selain hal-hal di atas, masih banyak contoh lain di masa lalu yang menjadi fondamen warna Islam di Indonesia.

v Masa Kemerdekaan: Islam versus Komunis =Islam Komunis?
Yang menarik dari Islam masa ini adalah, era di mana gerakan komunis mulai mendapat momentumnya. Ketika ramai-ramai orang mempersepsikan komunis setali tiga uang dengan atheisme, komunisme di Indonesia malah berinteraksi secara baik-baik dengan kaum muslim. Kenapa? Karena komunisme adalah gerakan, bukan dimaknai sebagai ideologi an sich, ia bisa dijadikan model gerakan untuk memperbaiki ketidakberdayaan masyarakat, yang memang menjadi kondisi nyata bangsa Indonesia waktu itu.
Presiden Soekarno sendiri memaklumatkan ideologi Nasakom, yang sama sekali bukan sebagai relasi agama vis-a-vis komunisme tapi lebih sebagai perlawanan mengguritanya kapitalisme dan Soekarno merasa harus menemukan formula yang tepat mengatasi situasi keterpurukan ekonomi bangsa, belum stabilnya politik negara. Meski untuk itu, perkawanannya dengan negara-negara tetangga yang menjadikan komunis sebagai poros, barangkali banyak mengilhami pemikiran Soekarno dalam melihat persoalan di Indonesia.
Meski dunia lebih mencatat komunis di Indonesia sebagai gerakan kudeta, namun sebenarnya internalisasi nilai-nilai komunis dalam Islam menarik untuk ditelusuri. Beberapa dari mereka malah mencari titik persamaan antara keduanya, sebagai sesuatu yang oleh publik diantagoniskan, misalnya; keberpihakan terhadap yang lemah dan cita-cita mewujudkan masyarakat yang sejahtera.

v Islam di Indonesia pada Masa Orde Baru
Tesa Clifford Gertz tentang kategori tiga muslim sebagai santri, abangan priyayi sebenarnya sudah lama terbantahkan. Meski analisanya tak sepenuhnya sahih, Gertz sesungguhnya telah melihat praktek-praktek keagamaan model masyarakat Jawa dibandingkan dengan konsep agamanya yang genuine. abangan, bisa dikatakan bahwa ada proses konversi yang tidak lengkap. Dalam waktu yang lama misalnya, orang-orang Jawa masih memelihara praktek tradisi Hindu dan menggunakan Islam dan Syariahnya hanya sebagai bungkus atau petunjuk formal dan wadah bagi kehidupan spiritual.
Pada era Soeharto, performance Islam Indonesia sebenarnya justru lebih pada kecurigaan kelompok-kelompok, pencatatan setiap pertemuan publik yang bersifat keagamaan, pembubaran organisasi yang dianggap menggerogoti Pancasila dan tindakan subversif.
Baru pada era 90-an Islam nampaknya menemukan momentum gerakannya. Ini misalnya ditandai dengan lahirnya ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) di tahun 1992, greening birokrasi meminjam istilah Hefner dalam “ Civil Islam ” menjadi gairah baru kehidupan muslim di Indonesia. Sejak itu, atribut-atribut Islam pengamat lebih sering menyebutnya sebagai simbol menjadi warna keseharian kehidupan muslim.
Pilihan memakai busana muslimah, misalnya, sudah menjadi bagian dari kehidupan publik, dan fenomena tidak hanya terjadi di ICMI, namun seiring menguatnya gerakan tarbiyah Islam dari kaum urban. Gerakan ini, terutama dimotori kaum muda dari universitas-universitas umum.
Mereka menginginkan kehidupan yang khuysuk dengan menerapkan ajaran yang fundamental seperti masa Rasulullah saw, terutama cara berpakaian. Model yang sebenarnya ingin mengambil prinsip-prinsip literal al sunnah. Tak heran, kalau timbul guyonan baju menunjukkan identitas madzhabnya! Gerakan ini banyak mendapat perhatian pengamat asing, terutama untuk studi-studi akademik. Apalagi fenomena ini tidak hanya terdiri dari satu grup, namun muncul juga di grup yang lain dengan identifikasi khusus.
Sebagian kentara sekali warna Timur Tengahnya, sehingga kadang lebih mewakili eksistensi budaya Timur Tengahnya daripada pesan keagamaannya. Dengan fenomena ini bertambah lagi warna Islam di Indonesia. Kecenderungan-kecenderungan di atas, kemudian melahirkan Islam radikal, fundamental, moderat, liberal dan sebagainya. Mengapa? karena identitas itu memudahkan penggambaran gerakan masing-masing. Apakah Islam di masa lalu yang lebih menunjukkan identitas Islam Indonesia kemudian lenyap? Jawabnya, tidak sepenuhnya.
Namun gerakan yang paling banyak menarik media massa ini lebih sering ter-cover daripada Islam Indonesia sebelumnya. Meski awal-awal kemerdekaaan, kita tak melupakan gerakan DI/TII dan “ kekejaman ” kelompok Kartosuwiryo yang mencita berdirinya Islam di Indonesia. Islam Indonesia.
Sebelum Tragedi 11 September Studi Islam di Indonesia sebenarnya banyak menarik perhatian Islamist negeri terutama tentang raksasa dua organisasi massa Islam; NU dan Muhammadiyah. Namun, meski Indonesia kaya dengan banyak intelektual muslim, dari pihak organisasi manapun, mereka jarang terkenal dalam dunia Internasional.

v Islam di Indonesia Pada Masa Reformasi
Pasca Soeharto, yaitu era reformasi nampaknya merupakan momentum untuk melahirkan ekspresi Islam masing-masing, NU dan Muhammadiyah tidak lagi menjadi dwi-tunggal yang mengundang perhatian banyak pengamat asing. Selain NU dan Muhammadiyah, realitasnya, ada banyak organisasi massa Islam di Indonesia, misalnya Persis atau Perti, namun memang tidak sebesar dua organisasi sebelumnya.
Sementara itu, seperti disinggung di atas, era reformasi adalah era keterbukaan yang memungkinkan orang untuk mengekspresikan pikiran termasuk cara keberagaamaan. Ambillah contoh misalnya; lahirnya Front Pembela Islam (FPI) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). Forum Komunikasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan Laskar Jihadnya, dan lain-lain. Masing-masing organisasi Islam ini lahir dengan karakternya masing-masing. Yang menarik, gerakan organisasi ini mampu menyedot perhatian media massa dengan coverage seluas-luasnya di media dalam dan luar negeri.
Wajar saja, karena selain sangat kental dengan simbol, gerakannya yang lebih mengandalkan unjuk kekuatan dalam melawan sesuatu di mana hal ini tidak dijumpai sebelumnya banyak orang dirugikan atas pembenaran tindakannya yang mengatasnamakan agama dengan kata lain jihad. Fenomena munculnya gerakan baru Islam ini juga didukung oleh menguatnya wacana penerapan syariat Islam yang dibarengi oleh kebijakan pemerintah dengan otonomi daerah masa presiden Abdurrahman Wahid.
Pemerintah memberikan keleluasaan daerah untuk mengatur pemerintahnnya sendiri. Sejak inilah Islam Indonesia banyak dikenal lebih pada gerakannya, beberapa gerakan yang anarki dengan mengatasnamakan amar ma’ruf lebih sering didengar masyarakat daripada kegiatan-kegiatan ilmiah dan kajian-kajian untuk mengeksplorasi Islam.

v Islam Indonesia Pasca 11 September
Merespon Amerika, Mencari Sekutu, Mencipta Enemi Baru tak ada yang menyangka, bahwa 11 September 2001 lalu, WTC di New York yang secanggih itu security-nya bisa hancur luluh dalam hitungan menit dan menggegerkan dunia. Banyak simpati dunia akan tragedi itu kepada Amerika. Presiden Megawati, bahkan, menjadi tamu pertama George Bush setelah peristiwa itu dan menyatakan dukungannya bahwa Indonesia di belakang setiap usaha untuk menumpas kekerasan/terorisme. Namun apa yang terjadi? Setelah “ malapetaka Amerika ” ini, muncul misi Amerika; perang melawan teroris. Indonesia pasca tragedi itu, pernah dijuluki surga bagi teroris, dengan merujuk situasi gerakan Islam belakangan.
Dikatakan bahwa otak pengeboman itu; Osama bin Laden, banyak mempunyai network dengan pentolan ormas-ormas yang lahir belakangan. Asumsi ini timbul karena meningkatnya gerakan Islam radikal di Indonesia. Mereka misalnya dikenali dengan ciri-ciri; penggunaan simbol-simbol Arab, sering mengerahkan massa, cita-cita menegakkan negara Islam dan lain-lain. Bagi mereka, terutama mereka yang melihat perkembangan Islam di Indonesia belakangan, gejala ini memunculkan kekhawatiran tersendiri, terutama ketakutan matinya demokrasi di Indonesia.
Bukan itu saja, gerakan yang didanai secara swadaya, ini juga rentan akan kedekatannya dengan penyandang-penyandang dana dari Timur Tengah. Sejak Amerika memproklamirkan war againts terorist, Indonesia masuk dalam sasaran ini. Apakah yang populer dan bisa diinventarisir dalam sorotan dunia tentang isu Islam di Indonesia pasca tragedi 11 September? Pertama, isu Jamaah Islamiyah (JI). Organisasi yang hampir tak pernah dikenal di Indonesia ini, disinyalir sebagai sarang lahirnya teroris. Meski sebenarnya banyak tokohnya ada di Malaysia, tak urung orang-orang yang pernah terlibat atau berhubungan dengan almarhum Abdullah Sungkar, sang pemimpin di Malaysia di manapun berada dianggap telah ikut menghidup-hidupkan JI ini.
Di Indonesia, nama Abu Bakar Baasyir, ketua MMI dan pengasuh pesantren Ngruki ini mendadak menjadi sangat terkenal, dalam kasus pencarian jaringan JI. Apapun alasannya, akhirnya ia berhasil dikenai dengan serangkaian tuduhan makar maupun aktor di balik terjadinya gerakan-gerakan Islam garis keras.
Kedua, meningkatnya sentimen anti-Amerika. Ketika terjadi peristiwa 11 September 2001, Indonesia sebenarnya menunjukkan atensi dan simpati serta mengutuk perbuatan tak berperikemanusian ini, siapa pun pelakunya. Namun keputusan pemerintahan Amerika untuk menyisir Afganistan, negeri di mana Osama bin Laden kira-kira bersembunyi, telah melukai banyak umat muslim di Indonesia.
Afganistan memang di bawah rezim Taliban yang ditengarai sangat radikal dan literal dalam pemahamaman keagamaan, namun bukan kewajiban Amerika untuk kemudian menyerangnya dengan alasan untuk membebaskan rakyat dari kekuasaan yang tiran sambil mencari-cari Osama. Agresi tetap agresi, di mana tindakan Amerika ini tak bisa meluputkan jatuhnya korban korban sipil. Setelah sukses dengan Afganistan dan memberinya “ kompensasi dengan kebijakan barunya menyerang Irak.
Apapun alasannya, Irak yang sampai hari belum sesukses Afganistan untuk ditaklukkan, Amerika telah menjadikan Irak sebagai seteru baru dan seolah-olah menjadi imaginer enemy. Untuk melakukan itu semua Amerika tidak sendiri, ia banyak mendapat sekutu, terutama sebagian negara-negara di Eropa.
Policy pemerintahan Amerika seperti di atas, sebenarnya sangatlah membuat risih. Banyak orang kemudian –termasuk di Indonesia- yang menggeneralisir bahwa apapun yang berbau Amerika harus dimusuhi, kalau perlu dengan jalan kekerasan. Di Indonesia, ketika terjadi penyerangan-penyerangan itu, tak sedikit waralaba-waralaba Amerika yang ingin dihancurkan. Sementara orang kulit putih dari negara manapun, menjadi target kekerasan bom, maupun sweeping. Ini yang kemudian membuat sejumlah negara memberikan warning kepada turis untuk datang ke Indonesia.
Ketiga, menguatnya citra Islam radikal di Indonesia. Media massa, baik dalam maupun luar, telah banyak mengekspos berita-berita tentang wajah Islam di Indonesia yang seringkali tanpa reserve. Lihatlah, bagaimana istilah JI bisa sangat populer, bagaimana setiap saya bertemu dengan orang asing, selalu ditanya tentang Islam Fundamentalis, FPI dan sebagainya. Hal ini tentu disebabkan konstribusi media yang besar dalam menimbulkan opini publik yang suka atau tidak suka telah mengubah wajah Islam di Indonesia.
Keempat, meningkatnya aksi bom untuk dan atas nama jihad. Bagaimana pun, ketika dunia masih tersentak dengan peristiwa 11 September, selanjutnya Bali terjadi dan disusul dengan Bom J.W. Marriot hotel.

v Penutup
Wajah Islam di Indonesia selalu mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu. Masa pra kemerdekaan sebenarnya tak jauh dengan masa Soeharto. Pada masa reformasilah, yang banyak mendapat sorotan dunia. Saat itu, wajah Islam kita tiba-tiba total menjadi Islam yang yang suka menunjukkan kekuatan dan banyak mencita-citakan mati syahid (martir) kalau berhasil melenyapkan orang yang didefinisikan sebagai musuh.
Meski citra ini mereduksi wajah Islam Indonesia yang toleran dan ramah, publik atau dunia mulai melihat titik terang Islam di Indonesia. Mereka misalnya sering mencari rujukan-rujukan model keberagamaan seperti di NU dan Muhammadiyah. Sebutlah yang agak kontroversial misalnya, undangan Presiden Bush sewaktu ke Bali dan safari dubes AS ke beberapa tokoh dan pesantren.


Ø SUMBER
1. Prof. Dr. P.S. Van Koningsveld. Snouck Hurgronje dan Islam; Delapan Karangan Hidup dan Karya Seorang Orientalis Zaman Kolonial Islam
2. Pergulatan Muslim; Otobiografi Hasan raid
3. www.wikipedia.net
4. www.google.com

Dinamika Sosial

Jarang terjadi di zaman ini, timbuk rasa saling mengerti diantara sesama, tenggang rasa, simpati, empati dan mau menolong antar sesame. Hal ini pernah ditekankan pada era orde baru, namun kali ini hal tersebut sudah menjadi sesuatu yang jauh ditinggal oleh orang banyak. Sesuatu yang menarik terjadi, ketika saya menuju kampus 3 UAD. Di daerah gondomanan saya melihat seorang polisi menuntun dua orang tuna netra untuk menyebrang jalan, dungguh hal yang jarang ditemukan di negri ini. Kemudian sesampainya di daerah makam pahlawan, paradigma saya berubah terhadap pengayom masyarakat ini. Saya melihat patroli polisi “tilangan”, hamper saja saya ikut ‘digaruk’, karena SIM dan STNK saya jatuh dua hari yang lalu. Sungguh menarik hidup ini, banyak rahasia yang bisa kita ambil dari setiap kejadian. Kalo kita cermati, Kharisma polisi dimata masyarakat memang fluktuatif, tergantung pada siapa masyarakat menemui polisi. Kalo ia mendapat polisi yang baik, mungkin bisa dikatakan beruntung, tapi kalo tidak?. Jadi repot urusannya, banyak masyarakat yang tidak tahu hukum, justru dipermainkan pleh penegak hukum. Contoh saja, saat saya mengurus STNK dan melapot berita kehilangan, kalo dulu, saat pernah hilang juga STNK nya, ngurus2nya lumayan, harus ke media cetak dan elektroni, tapi kali ini tidak make, sunguh aneh, peraturannya kok tidak sama?. Padahal dulunya tidak lama.... aneh tapi nyata...Sesungguhnya banyak yang ingin saya tuangkan dalam tulisan ini sebagai langkah awal untuk mengasah otak biar berlekuk katanya, semakin berlekuk semakin berat timbangan otaknya, apa iyaya?. Dosen bilang, berat otak kita itu 1,2 Kg sedangkan jaringan syaraf utuk menyimapan memory ada sekitar 200 milyar, itu yang aktif, belum dikelilingi yang tidak aktif sebanyak 3000 milyar, lebih hebatnya lagi, satu jaringa itu masih memiliki sistem penyimpan lagi sekitar 20 jutaan,,, luar biasa, subhanallah coba kita hitung aja 20 juta kali 200 milyar kemudian ditambah 300 milyar, bener2 ruar biasa!, sedangkan yang kita gunakan mungkin baru berapa ya?

Selasa, 02 Desember 2008

Kapitalisme

Suatu faham yang berdasarkan kemodalan dengan mengutamakan pemilik modal lebih utama dari pada kaum pekerja. Dalam hidup ekonomi, merupakan asas dimana unsur material dari faktor2 produksi (tanah dan modal) berada pada tangan swasta dan motivasi terpenting dalam berproduksi semata-mata untuk mencapai keuntungan sebanyak-banyaknya. Alat pabrik dan tenaga ahli tidak sama dengan tenaga buruh, yang bekerja pada suatu perusahaan. Sementara kaum pekerja tidak sebanding penghasilannya dengan hasil modal yang ditanam pada suatu perusahaan. Kaum pekerja yang membanting tulang dan tenaga pada suatu perusahaan disebut "proletar".

Istilah kapitalisme berasal dari negarawan dan sejarawan Perancis beraliran sosialis, Louis Blanc (1881-1882). Paham kapitalisme berkembang sejak abad ke 11, ketika perdagangan internasional mulai dilakukan, ia lahir setelah ditemukan mesin di Eropa (awal kapitalisme) setelah Revolusi Industri (abad 19), kapitalisme merupakan sistem ekonomi paling menonjol di negara2 Barat (kapitalisme tinggi atau kapitalisme industri); bersama faham imperialisme, sistem tersebut kemudian membentuk ekonomi dunia.

Ciri2 kapitalisme dapat disebutkan sebagai berikut:

1. Kapitalisme tdk bisa tumbuh dan berkembang tanpa riba dan monopoli.

2. Penimbunan kekayaan di tangan pemilik kapital dan penyusutan secara relatif pemilikan oleh kaum pekerja.

3. Kapitalisme menimbulkan kolonialisme.

4. Berlebih-lebihan dalam hal keuntungan, pemborosan dan korup.

5. Ia menimbulkan materialisme atheistis, menentang spiritualis, degaibisasi

Selasa, 25 November 2008

Turunkan Harga BBM

Penurunan bbm jenis premium sebesar rp 500 terlalu minim, desakan parlemen terus digaungkan dpr kepada pemerintah. padahal harga minyak di pasar intrnasional saat ini dalam tren menurun. anehnya pemerintah masih saja mempertahankan harga minyak, ketika harga minyak minyak internasional naik, pemerintah dengan sigap menaikan harga minyak di negeri ini. dukungan menurunkan harga bbm lebih dari rp 500 juga datang dari pimpinan panitia anggaran (Panggar) DPR. wakil ketua pangga, Harry Azhar aziz, menilai pemerintah sanggup menahan beban bila harga BBM diturunkan lebih dari Rp 500 (Republika/26/11/08).